Speakers
Description
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kualitas guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) dengan motivasi belajar siswa melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Kualitas guru PJOK merupakan faktor penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, tidak hanya dari segi kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan pedagogik, sosial, dan profesional. Motivasi belajar siswa sebagai salah satu penentu keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh dukungan guru, interaksi positif, strategi pembelajaran, serta pemanfaatan teknologi dalam proses pengajaran. Sebanyak 40 artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam kurun 2015–2025 dianalisis secara sistematis. Seleksi literatur dilakukan melalui penyaringan judul, abstrak, dan naskah lengkap dengan kriteria inklusi meliputi relevansi topik, keterkaitan dengan kualitas guru PJOK dan motivasi siswa, serta menyediakan standar metodologi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan sintesis naratif untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari literatur. Hasil telaah menunjukkan bahwa kualitas guru PJOK berperan signifikan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Tema utama yang teridentifikasi meliputi kompetensi profesional guru, dukungan dan interaksi guru–siswa, integrasi teknologi digital, evaluasi pembelajaran, serta inklusi dalam pendidikan jasmani. Banyak penelitian mengacu pada kerangka Self-Determination Theory (SDT), yang menekankan pentingnya menyediakan kebutuhan dasar siswa, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Selain itu, integrasi teknologi terbukti mampu memperkuat motivasi siswa, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengelolanya secara pedagogis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas guru PJOK merupakan penentu utama motivasi belajar siswa. Implikasi praktisnya mencakup perlunya peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan, penerapan model pembelajaran inovatif, serta pemanfaatan teknologi yang tepat guna. Penelitian lanjutan dengan desain eksperimental jangka panjang diperlukan untuk memperkuat bukti kausalitas.